Kamis, 31 Januari 2013

Pertemuan Pertama



Sudah 2 jam lebih aku berdiri terpaku di depan cermin. Mungkin ratusan kali kusisir rambutku yang coklat kepirang-pirangan sepanjang pinggang ini. Sedikit bergaya dan meluruskan lipatan-lipatan dress pink muda favoritku untuk memastikan bahwa semuanya rapi dan sempurna. Kupakai bando dengan sedikit hiasan mutiara putih diatasnya dan menyeleksi helai demi helai untuk memisahkan poni rataku dengan rambut yang menjuntai ke belakang. Aku termangu. Tidak pernah kulihat diriku seperti ini. Memakai baju seindah ini. Bersolek bagaikan seorang putri yang sering diceritakan Bunda Winda sebelum tidur. Ku semprotkan parfum sewangi bunga cantik di taman belakang panti. Tak henti-hentinya ku menatap jam klasik berwarna putih di sudut kamar. Apa aku sudah cantik? Bagaimana kalau nanti ia tidak suka saat melihat dandananku? Apa aku kurang siap? Mengapa ia tak kunjung datang? Atau mungkin ia terlalu sibuk untuk menemuiku?
“Haaaaaaah...”, kuhempaskan tubuhku ke atas ranjang dengan sprei berwarna hijau toska. Kutatap langit-langit berhiaskan stiker transparan berbentuk bulan, bintang dan matahari yang akan menyala jika kamar dalam keadaan gelap. Semua pikiran ini menenggelamkanku. Ku menutup mata.
            
             Kreeeeeek.... Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan dan pikiran-pikiran yang menculikku entah kemana sesaat yang lalu. Semerbak bunga lavender menyelimuti ruangan dan kutahu darimana wangi ini berasal. Kulihat sosok Bunda muncul perlahan dibalik pintu. Ia memakai kemeja putih bersih yang dimasukkan ke rok pensil motif bunga berwarna khaki . Seperti biasa, Bunda selalu terlihat anggun dan kini ia terlihat semakin cantik dengan rambutnya yang hitam dan panjang bergelombang diikat satu sedikit tinggi. Kulitnya yang kuning langsat terlihat cerah dengan lipstick pink mudanya menegaskan kecantikan dari tiap sudut tulang wajahnya. Aku tertegun dan perlahan bangun untuk duduk. Kusadar rambutku kini berantakan lagi.
“Szirya, sudah siap sayang? Wah cantik banget gadis Bunda yang satu ini. Bisa juga ya ternyata jadi cewe. Hihi.”
“Haha Bunda bisa aja. Lagian cuma sekali ini Irya mau dandan dan tampil cantik. Masa Irya pake kaos oblong sama celana pendek terus. Ntar bisa-bisa Mamah gamau ketemu Irya. Aku udah cantik belum Bun? Kurang rapi ya? Harus pake merah-merah kaya di pipi Bunda gak sih?”
“Ya ampun sayangku Irya. Kamu pake apapun tetep cantik kok. Apalagi sekarang kaya barbie banget. Persis. Lebih mendingan sih daripada kemaren kemana-mana pake sendal swallow”, ejek Bunda sambil tertawa dan memelukku.
“Abis aku deg-degan banget Bunda. Ini kan pertemuan pertama aku”, balasku manja dengan memeluk Bunda seerat mungkin. Aku selalu suka saat Bunda mengelus rambutku sambil dipeluk seperti ini.
“Iya sayang, Bunda tau. Tenang aja ya sayang. Di setiap cerita seorang putri cantik kaya kamu pasti keinginannya dikabulkan oleh Tuhan”

Semoga semua ini bukan dongeng lagi. Semoga aku bisa jadi putri di dunia nyata. Selama 13 tahun aku menunggu saat-saat ini. Bertemu dengan seseorang yang sangat berarti untukku. Impian terbesar dan terindah bagi setiap anak di panti. Tak henti-hentinya aku berdoa setiap shalat agar bisa bertemu dengannya. Sosok yang membuatku eksis di dunia ini. Sosok yang kuidamkan kehadirannya di setiap detikku selama ini. Sosok yang sering membuatku tertegun saat melihat anak lain yang lebih beruntung dariku. Namun aku tetap bersyukur. Selama 13 tahun ini Bunda Winda selalu ada untukku. Kala aku sedih maupun senang. Meski kenakalanku membuatnya puyeng setiap hari. Tingkah lakuku yang manja dan segala senda gurau ku selalu ditanggapinya tanpa keluh kesah maupun amarah berlebihan. Bunda Winda memang seorang wanita cantik yang tegas, tapi aku selalu mencintainya.

 Kuingat saat aku lari tunggang langgang dengan kaki tak beralaskan apapun karena dikejar 6 ekor anjing tetangga yang kulempari kerikil. Bunda Winda menolongku sambil ikut berlari dan mencari tempat yang aman di atas pohon. Ia memarahiku waktu itu, namun berakhir dengan candaan dan kami tertawa terus sepanjang perjalanan pulang ke panti. Tiba-tiba kurasakan mataku mulai panas mengingat semua kenanganku bersama Bunda. Air mataku tak terbendung lagi dan perlahan jatuh di pipi yang sudah susah payah ku poleskan bedak sejak berjam-jam yang lalu. Dengan sigap kuhapus agar tak merusak perjuanganku selama setengah hari ini.
“Yaudah, Bunda ke ruang tamu dulu ya. Siapa tau yang kamu tunggu-tunggu udah dateng,” katanya seraya beranjak dari kasur setelah merapikan poniku yang kusut.
“Eh, Bun!” cegatku dengan nada setengah berteriak.
“Hmm?” balasnya sambil membalikkan badan dengan tangan sudah memegang gagang pintu tanda siap untuk meninggalkan kamar.
I love you, Bun. Hehe,” lirihku sambil terkekeh-kekeh.

Bunda menyunggingkan senyumnya yang manis dan terlihat bibirnya mengisyaratkan kata I love you too tanpa suara dan meninggalkan kamar. Ku menghela nafas. Kembali berkaca dan merapikan lagi semua dandanan spesialku yang sempat rusak tadi. Sempurna. Aku siap, batinku.
 “Szirya! Ayo ke ruang tamu sayang. Udah dateng nih!” teriakan Bunda mengalihkan perhatianku. Ini dia. Saat yang kutunggu-kutunggu. Momen yang bisa membuatku meninggalkan kaos oblong bergambarkan bendera Inggris dan sendal swallow warna coklat usang kesayanganku selama setengah hari ini. Suatu hal yang membuat bulu kudukku merinding dan memaksa nadiku berdenyut lebih cepat. Jantungku terpompa lebih aktif dibanding ketika aku kabur saat Bunda memaksaku makan brokoli di Minggu pagi. Aku beranjak dari depan kaca dan berjalan menuju ruang tamu yang jauhnya sekitar 100m dari kamarku. Ku tutup pintu kamar dan kulangkahkan kakiku dengan mantap menyusuri koridor bercat biru muda dengan berbagai lukisan anak-anak panti di setiap 3m. Aku terhenti. Kulihat sebentar kearah luar melalui jendela kayu yang terbuka. Angin sepoi-sepoi menghembuskan helai demi helai rambutku. Terlihat sunggingan senyum teman-teman yang sangat kusayangi selama ini. Mereka sedang bermain ular tangga di luar sana. Beberapa ada yang bermain petak umpet dan mengobrol di ayunan. Aku tersenyum. Sungguh, aku sangat bahagia berada disini. Bertemu dengan semua teman yang sudah menjadi saudaraku sendiri. Kehadiran mereka bagaikan oksigen di keseharianku. Tapi, kulanjutkan langkahku. Mengenai semua saudaraku disini dan Bunda, pasti aku masih bisa bertemu mereka setiap hari. Aku tak ingin kehilangan lagi. Aku tak ingin selalu bermimpi dengan mimpi yang sama di setiap malamnya.

Aku sampai di ruang tamu. Semerbak wangi buah segar bercampur bunga lavender yang asing memenuhi ruangan. Kuberanikan menegakkan pandanganku. Kulihat sesosok wanita yang tidak asing bagiku. Biasanya ku melihat sunggingan senyumnya lewat gambar berukuran 4x6 yang kubingkai dengan cantik. Dan aslinya memang lebih cantik. Ia menggunakan kemeja berbahan shiffon berwarna coklat muda yang dimasukkan ke dalam celana lurus bernada sama. Mengenakan tas kulit berwarna merah yang diselendang dan sepatu berhak tinggi senada dengan tasnya. Rambutnya yang coklat panjang bergelombang jatuh menggantung dengan rapi di kedua pundaknya kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Kutatap mata birunya nya yang berbinar menatap balik ke arahku dan perlahan mulai meneteskan air mata. Aku tertegun dan terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba air mataku ikut menetes perlahan.
“Szirya? Sini, peluk Mamah sayang,” lirihnya sambil menghampiri dan memelukku sambil berlutut.

Aku masih sedikit kaget . Kulihat Bunda tersenyum kearahku dan mengangguk. Kubalas pelukan Mamah yang sangat erat. Kututup mataku. Kurasakan hangatnya yang sangat membuatku nyaman. Saat-saat yang memecah tangis, haru, sedih dan bahagia. Semuanya bercampur menjadi satu. Perasaan senang dan sedih yang menyesakkan dadaku seketika itu juga.  Semua kenangan, memori, harapan dan asa seakan membuncah di otakku menjadi rasa bahagia yang tiada tara. Seluruh penantian dan waktu yang hampa tanpa sosoknya habis sudah. Akhirnya. Semua kerinduanku terlepas juga. Setelah 13 tahun. Semua bunga tidur terindah itu menjadi kenyataan. Aku bukan sekedar putri kerajaan yang menunggu keajaiban datang. Semuanya, dari pertemuan pertama ini. 

Sore Pertama

Ku hirup wangi kopi aroma yang kuseduh beberapa menit yang lalu. Ditemani buku sketsa dan sepiring kue oat buatan ibu. Senja memperlihatkan kemolekannya. Amboi. Betapa rindunya aku dengan keheningan ini. Ku tatap sketsa baju yang baru rampung tadi pagi, bahkan tak mengizinkanku untuk berbaring sejenak ke alam mimpi. Tapi setidaknya deadline Bu Atik ada di tanganku. Ku teguk kopi yang menggoda itu. Paitnya membuat pikiranku melanglangbuana. Menyatukan puzzle gambar 3 tahun yang lalu. Betapa aku susah payah mengenyahkan semua kenangan itu. Bukan niatku untuk melupakan. Tapi yah..... rasa rindu akan memori itu menohok hatiku dalam-dalam. Dikala kau duduk di ayunan rotan terasku dengan santainya. Melepas kacamata yang memperlihatkan alis tebal dengan garis tebal yang sering kuejek seperti Shincan. Serta mata yang tajam namun hangat dan berbinar. Tawamu yang menyeruakkan suasana ramai meski hanya berdua. Genggamanmu yang buatku nyaman hingga lupa waktu. Dekapanmu yang kuatkan aku menghadapi dunia. Ya.....menghadapi dunia. Ada apa dengan kalimat 'Aku dan kamu menghadapi dunia?'. Kemana untaian kata kebanggaanmu itu? Kemana dirimu? Kenapa? Apa salahku hingga kalimat itu hanya aku yang meneriakkannya dengan lantang? Sendiri. Hampir aku mencaci Tuhan. Kenapa aku tak boleh merasakan kehangatan tawa sore itu lagi? Kenapa wangi parfummu hanya menghantui otakku setiap hari? Aku tak tahan menjaga tembok ini sendirian. Agar tak runtuh. Tapi apa daya. Air mata ini merobohkan tembok yang kujaga selama bertahun-tahun. Aku hanya ingin berbincang sebentar. Memberitahumu bahwa aku baik-baik saja disini. Bahwa aku bisa mengurus nilai di kampus sendiri. Bahwa aku bisa membuka botol selai strawberry baru sendiri. Bahwa aku bisa........meski tanpa kamu.

B : Say, hal yang paling kamu lakuin sekarang ini apa? Gausah yang susah-susah sih, yang bisa kamu lakuin liburan ini aja.

Aku : Hmmm.... backpackeran ke Bangka Belitung atau terbangin lentera di Semeru, di tengah padang edelweiss. Gila, pasti bakal keren banget ya. Kamu pengen ngapain?

B : Edelweiss? Bunga abadi itu kan yang suka orang-orang omongin? Emang ada di sana?

Aku : Iyap. Tapi jangan berpikiran buat ngambil ya. Ga ada pendaki yanng berani ngambil setangkai pun bunga itu. Soalnya kan termasuk bunga yang dilindungi dan pasti bakal diperiksa sama penjaga di sana.

B : You know kan, honey. I love such unusual things. Percaya deh, pasti aku bisa bawain bunga itu buat kamu.

Aku : What? Haha. Don't be ridiculous. Kamu ada-ada aja deh. Beliin gulali depan sd aja aku udah seneng kok, gausah bawain edelweiss juga kali yaaaang.

B : Haha gak percayaan banget sih kamu, liat aja nanti.

Dan aku gak percaya, obrolan kita sore hari itu, jadi yang terakhir paling aku ingat. Sampai sebuah kabar mengubah segalanya.

Aku : Bang Aries bohong kan? Haha ga mungkin, ga mungkin dia....

Bang Aries : Demi Allah, Fi. Maafin gue...... Pas jam istirahat pendakian, dia izin ke ladang bunga apagitu. Katanya mau bawa oleh-oleh buat lo. Tapi akhirnya...... dia ga balik sampai sekarang. Maafin gue, Fi.

Idiot. Idiot. Idiot. Kenapa kamu harus anggap semua perkataanku itu serius. Aku cuma mau kamu, aku mau kamu kembali..... kesini.... meski hanya sekali.

Ku seka air mataku yang mewarnai buku sketsa hitam putih itu. Dan ayunan rotan yang bergerak tertiup angin itu mengingatkanku bahwa kau tidak kemana-mana, tapi di sini, di hati dan pikiranku.

Jumat, 28 Desember 2012

From Me to You with LOVE


HAI !

How do you feel in your first 20-year-old-man's day? 
Kesel? Seneng? Sedih? Bete? Atau bahkan biasa aja? Well, I hope it's going to be great!

Sorry for those simple gifts, very very very simple. I couldn't make such sweet or surprisingly things but I truly made it with all my heart (ceilah). 

All I can say is......

Hope you had and have all great times ahead, be more wise, baiknya beribu kali lipat, bertambah terus level kekocakan dan gak-jaimnya, tumbuh terus kedewasaannya, menumpuk terus rasa semangat, mengayomi dan melindunginya, tetep takar manjanya, berkembang terus ilmu dan ibadahnya, semakin sholeh, banyak rezeki, episode cintanya lebih banyak dari seri sinetron indonesia, sayangnya sebanyak bintang di angkasa, berguna terus buat kampus, bangsa, negara dan agama serta berjuta doa yang terus aku selipkan diantara tetesan hujan di bulanmu, Desember. 

Once again,

GEFELICITEERD , BILLY DESTAVIAN!

Ik hou van je my lovely-little-boy :)



Minggu, 08 Juli 2012

Miracle After Miserable

ALHAMDULILLAH.

Kata itu yang selalu keluar dari mulut dan rangkaian huruf yang diketik jari pas balesin mention. Pikiran masih ngelayang dan perasaan kaki gak nyentuh tanah pas sadar bahwa ALHAMDULILLAH aku bakal jadi salah satu mahasiswi Fakultas Hukum di Unpad. Masih gak percaya kalau semua ini bukan mimpi. Rasanya pengen flashback ke detik-detik sebelum pengumuman snmptn kemaren....

----

17.00 WIB
Buka laptop, pasang charger, nyalain modem. Pantengin layar laptop. Jari ga bisa berhenti liat timeline twitter di hp yang memunculkan banyak kabar burung (pake laptop tapi buka twitter pake hp, pemborosan hidup). Ada yang bilang pkl 18.00 lah, 19.00 lah bahkan 16.00. Heart rate : rate musik rock yang tajem dan cepet alias deg-degan level tertinggi maicih.

18.00 WIB
Denger adzan. Mau ambil wudhu tapi ga jadi pas sadar kuku pake kuteks berarti masih halangan. Akhirnya mematung dan komat-kamit dzikir. Halaman snmptn diklik sana-sini. Coba semua mirror tapi nihil. Gigit bibir ga sabar. Adek mulai ikutan rempong deg-degan dan otak-atik komputer biar nyala terus bisa browsing juga, niatnya bantuin aku. Adek yang baik, tumben *kecup*.

18.10 WIB
Mata ga bisa lepas dari jam. Semua jam di rumah diliat. Buka 9gag. Gak ketawa. Pertanda apakah ini Tuhan........

18.20 WIB
Kenapa jarum jam kaya ga gerak-gerak juga sih?!

18.45 WIB
Mulut komat-kamit ga karuan. Mata lincah cari informasi. Tetep pantengin timeline dari hp dan situs snmptn. Baru kali ini perasaan waktu jalannya lebih lama dari siput!

18.50 WIB
Ini abad keberapa!

19.00 WIB
Seisi rumah deg-degan gak karuan. Farro mondar-mandir mainin rubik. Ibu tiba-tiba angkat galon aqua (ini memang mau isi dispenser). Rasanya jantung mau berenti, kepala mau meledak, hati cenat-cenut. Deg-degan level eternity.

19.10 WIB
Rasanya pengen loncat ke sumur. Ga ada alamat server dan mirror yang bisa connect! Mampus....

19.20 WIB
Bikin hot chocolate biar tenang. Tangan kena air panas. Susu beleber kemana-mana.... okay ide buruk. Pantengin laptop lagi. Bbm sobat dan pacar, D semua. Liat twitter, ada yang udah tau pengumuman. Syit, kegalauan akut menerpa.

19.30 WIB
YES! Web UI bisa dibuka. Tapi pas masukin nomer kerefresh dan balik ke domain awal terus. Rasanya pengen nangis ngegembel aja.

19.38 WIB
Tutup browser. Buka browser. Masukin address snmptn. YES KEBUKA. Masukin nomer peserta..... tanggal lahir..... periksa lagi ..... periksa lagi ..... periksa lagi ..... okay. Klik OK dan.... #kemudianhening (backsound : suara biola cekit cekit)


Teriak sekenceng mungkin. Langsung peluk mamah. Nangis. Farro kaget. Cicak kaget. Satpam kaget. Kucing yang lagi berantem depan rumah berenti. Semua kaget. Berpelukan sambil nangis.
Langsung sujud syukur cium lantai. Bingung antara mau nangis atau ketawa. Nangis karena terharu tapi pengen ketawa liat mamah yang nangisnya ga berenti kaya kena asma.

----

Terima kasih ya Allah. Engkau memang Maha Segalanya.
Jadi senyum-senyum sendiri pas liat foto keluarga besar yang mejeng di ruang keluarga pas aku masih sd. Inget banget waktu itu bikin foto ini setelah Tante Muti wisuda S1 dari FH Unpad.

Ibu : Tuh teh, kaya tante Muti aja. Mau kuliah di Hukum Unpad? 
Aku : Mau dong biar bisa pake baju kegedean itu Bu. Keren ya sekolahnya luas banget kaya kebun binatang.
Ibu : Makanya teteh harus belajar yang pinter ya. Biar bisa sekolah disini, saking luasnya bisa lari-lari kemana pun teteh mau.  Terus pake toga juga tuh yang baju kegedean. Tapi inget ya teh disini mah ga ada binatang hahaha....

Setelah semua kerikil dan batu besar yang bikin aku jatuh di perjalanan kemarin. Mulai dari gagal dapet SMA impian, berjuang buat mutasi dan ditolak mentah-mentah oleh universitas tujuan pas seleksi undangan. Galau total karena nilai TO pas intensif gak kena target. Gak pede karena gak pernah sekalipun diizinin ikut seleksi mandiri universitas swasta sama ayah sementara yang lain udah punya cadangan kuliah, bahkan ada yang cadangannya kedokteran atau hukum. Pulang jam 9 malem berangkot ria dan jalan kaki sendiri dari kawasan geger kalong ke cikutra (percaya deh deket banget da deket) setiap hari. Sampe sempet jatoh, kaki keseleo,  berdarah dan celana sobek tapi terpaksa lari ke pangkalan ojeg karena mau TO di bimbel. Liburan ga karuan karena masih berstatus pengangguran total.

Tapi.... Alhamdulillah. Aku bisa liat raut wajah Ibu dan Ayah yang senyum liat page pengumuman kelulusan. Jadi ini yang mereka bilang raut wajah kebanggaan. Jadi ini yang mereka bilang moment once in a lifetime. Jadi ini yang mereka bilang bayaran setelah semua kerja keras tumpang tindih sebagai pelajar SMA. Ya, sebuah senyuman dan binar mata dari dua orang yang sangat aku cintai di dunia ini. Haha. Ternyata aku bisa bikin mereka nangis. 

Terima kasih, berjuta-juta kali aku ucapkan buat :
1. Allah SWT. yang selalu bersamaku setiap waktu. Ngasih semua yang terbaik, semangat, harapan, mewujudkan mimpi.... ah pokoknya semua hal.
2. Ibu. Yang selalu sabar kasih semangat, nenangin hati, masakin ini itu, tolongin ini itu.... ah pokoknya segalanya.
3. Ayah. Selalu tegasin prinsip kalau aku pasti dan harus bisa masuk universitas negeri, doain aku siang dan malam, gak capek debat tentang pilihan jurusanku yang labil, kerja pontang-panting...... ah pokoknya super sekali.
4. Farro. Termasuk adik yang cukup sabar karena sering aku marahin, suruh ini itu, temen ketawa kalau ngegila, buka 9gag bareng, rebutan gelas susu...... Huha banget deh kamu, dek.
5. Abu. Selalu kasih semangat satu sama lain, di samping depan belakang, jadi jurig tutor di bimbel, makan siang ke istiqamah melulu.....My best lovely boy :*
6. Dwiky. Sahabat paling gila, kupingnya pasti sistem pasang copot soalnya sabar banget dengerin semua keluh kesah merana galau sumpah serapah blablabla aku yang ga ada matinya, saling support dan salam super buat kamooooh.
7. Semua temen Rumbel Daniel, Icha, Lulu, Pican, Erlina, Anis, penghuni IPA 7 dan SMAN 2 Bandung.
8. Semua guru SMAN 2 dan Rumbel Daniel yang gayanya keren abis ga ada matinya.
9. Semua mang ojeg yang setia nganter aku ke tempat tujuan dengan selamat setiap hari.
10. Aa warung dan Mang Iyo baso tahu deket bimbel.... kalian the best.
11. Dan semua orang yang udah kirim doa siapapun kalian terima kasih  banyak. Salam kecup basah & hangat buat kalian semua.

Oiya, buat yang belum nemu suksesnya di jalur SNMPTN tulis, pasti kalian semua dapet sukses luar biasa setelah ini. Jangan pernah patah semangat, terus berjuang, berdoa, kasih yang terbaik buat jadi yang terbaik. Seonggok emas itu tidak ditemukan di permukaan tanah yang rindang atau hijau oleh rumput, tapi di dalam lapisan tanah yang kotor dan dalam. Do'a ku gak akan pernah berhenti buat semua pejuang dan pelajar seperti kalian diluar sana!

I know it's not a happy ending, just a happy part of life to begin the next serious chapter. Welcome to the college world, dude! 


Sekali lagi, terima kasih ya Allah. Insya Allah aku siap :)

Salam kecup hangat,

Xoxo.

Jumat, 23 Maret 2012

Taken by My Uncle

23 Maret 2012.

Berhubung hari ini di kalender berwarna merah karena hari raya Nyepi, langsung aja caw bareng keluarga besar ayah ke Leles, Garut untuk ziarah ke makam almarhum kakek. And how it goes, we took a lot of our pictures than the grave =))






Senin, 19 Maret 2012