Kamis, 31 Januari 2013

Sore Pertama

Ku hirup wangi kopi aroma yang kuseduh beberapa menit yang lalu. Ditemani buku sketsa dan sepiring kue oat buatan ibu. Senja memperlihatkan kemolekannya. Amboi. Betapa rindunya aku dengan keheningan ini. Ku tatap sketsa baju yang baru rampung tadi pagi, bahkan tak mengizinkanku untuk berbaring sejenak ke alam mimpi. Tapi setidaknya deadline Bu Atik ada di tanganku. Ku teguk kopi yang menggoda itu. Paitnya membuat pikiranku melanglangbuana. Menyatukan puzzle gambar 3 tahun yang lalu. Betapa aku susah payah mengenyahkan semua kenangan itu. Bukan niatku untuk melupakan. Tapi yah..... rasa rindu akan memori itu menohok hatiku dalam-dalam. Dikala kau duduk di ayunan rotan terasku dengan santainya. Melepas kacamata yang memperlihatkan alis tebal dengan garis tebal yang sering kuejek seperti Shincan. Serta mata yang tajam namun hangat dan berbinar. Tawamu yang menyeruakkan suasana ramai meski hanya berdua. Genggamanmu yang buatku nyaman hingga lupa waktu. Dekapanmu yang kuatkan aku menghadapi dunia. Ya.....menghadapi dunia. Ada apa dengan kalimat 'Aku dan kamu menghadapi dunia?'. Kemana untaian kata kebanggaanmu itu? Kemana dirimu? Kenapa? Apa salahku hingga kalimat itu hanya aku yang meneriakkannya dengan lantang? Sendiri. Hampir aku mencaci Tuhan. Kenapa aku tak boleh merasakan kehangatan tawa sore itu lagi? Kenapa wangi parfummu hanya menghantui otakku setiap hari? Aku tak tahan menjaga tembok ini sendirian. Agar tak runtuh. Tapi apa daya. Air mata ini merobohkan tembok yang kujaga selama bertahun-tahun. Aku hanya ingin berbincang sebentar. Memberitahumu bahwa aku baik-baik saja disini. Bahwa aku bisa mengurus nilai di kampus sendiri. Bahwa aku bisa membuka botol selai strawberry baru sendiri. Bahwa aku bisa........meski tanpa kamu.

B : Say, hal yang paling kamu lakuin sekarang ini apa? Gausah yang susah-susah sih, yang bisa kamu lakuin liburan ini aja.

Aku : Hmmm.... backpackeran ke Bangka Belitung atau terbangin lentera di Semeru, di tengah padang edelweiss. Gila, pasti bakal keren banget ya. Kamu pengen ngapain?

B : Edelweiss? Bunga abadi itu kan yang suka orang-orang omongin? Emang ada di sana?

Aku : Iyap. Tapi jangan berpikiran buat ngambil ya. Ga ada pendaki yanng berani ngambil setangkai pun bunga itu. Soalnya kan termasuk bunga yang dilindungi dan pasti bakal diperiksa sama penjaga di sana.

B : You know kan, honey. I love such unusual things. Percaya deh, pasti aku bisa bawain bunga itu buat kamu.

Aku : What? Haha. Don't be ridiculous. Kamu ada-ada aja deh. Beliin gulali depan sd aja aku udah seneng kok, gausah bawain edelweiss juga kali yaaaang.

B : Haha gak percayaan banget sih kamu, liat aja nanti.

Dan aku gak percaya, obrolan kita sore hari itu, jadi yang terakhir paling aku ingat. Sampai sebuah kabar mengubah segalanya.

Aku : Bang Aries bohong kan? Haha ga mungkin, ga mungkin dia....

Bang Aries : Demi Allah, Fi. Maafin gue...... Pas jam istirahat pendakian, dia izin ke ladang bunga apagitu. Katanya mau bawa oleh-oleh buat lo. Tapi akhirnya...... dia ga balik sampai sekarang. Maafin gue, Fi.

Idiot. Idiot. Idiot. Kenapa kamu harus anggap semua perkataanku itu serius. Aku cuma mau kamu, aku mau kamu kembali..... kesini.... meski hanya sekali.

Ku seka air mataku yang mewarnai buku sketsa hitam putih itu. Dan ayunan rotan yang bergerak tertiup angin itu mengingatkanku bahwa kau tidak kemana-mana, tapi di sini, di hati dan pikiranku.

4 komentar: