Sudah 2 jam lebih aku berdiri
terpaku di depan cermin. Mungkin ratusan kali kusisir rambutku yang coklat
kepirang-pirangan sepanjang pinggang ini. Sedikit bergaya dan meluruskan
lipatan-lipatan dress pink muda
favoritku untuk memastikan bahwa semuanya rapi dan sempurna. Kupakai bando
dengan sedikit hiasan mutiara putih diatasnya dan menyeleksi helai demi helai
untuk memisahkan poni rataku dengan rambut yang menjuntai ke belakang. Aku
termangu. Tidak pernah kulihat diriku seperti ini. Memakai baju seindah ini.
Bersolek bagaikan seorang putri yang sering diceritakan Bunda Winda sebelum
tidur. Ku semprotkan parfum sewangi bunga cantik di taman belakang panti. Tak
henti-hentinya ku menatap jam klasik berwarna putih di sudut kamar. Apa aku
sudah cantik? Bagaimana kalau nanti ia tidak suka saat melihat dandananku? Apa
aku kurang siap? Mengapa ia tak kunjung datang? Atau mungkin ia terlalu sibuk
untuk menemuiku?
“Haaaaaaah...”, kuhempaskan tubuhku ke atas ranjang dengan
sprei berwarna hijau toska. Kutatap langit-langit berhiaskan stiker transparan
berbentuk bulan, bintang dan matahari yang akan menyala jika kamar dalam
keadaan gelap. Semua pikiran ini menenggelamkanku. Ku menutup mata.
Kreeeeeek.... Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan dan
pikiran-pikiran yang menculikku entah kemana sesaat yang lalu. Semerbak bunga
lavender menyelimuti ruangan dan kutahu darimana wangi ini berasal. Kulihat
sosok Bunda muncul perlahan dibalik pintu. Ia memakai kemeja putih bersih yang
dimasukkan ke rok pensil motif bunga berwarna khaki . Seperti biasa, Bunda selalu terlihat anggun dan kini ia
terlihat semakin cantik dengan rambutnya yang hitam dan panjang bergelombang
diikat satu sedikit tinggi. Kulitnya yang kuning langsat terlihat cerah dengan lipstick pink mudanya menegaskan
kecantikan dari tiap sudut tulang wajahnya. Aku tertegun dan perlahan bangun
untuk duduk. Kusadar rambutku kini berantakan lagi.
“Szirya, sudah siap sayang? Wah cantik banget gadis Bunda yang satu ini. Bisa juga ya ternyata jadi cewe.
Hihi.”
“Haha Bunda bisa aja. Lagian cuma sekali ini Irya mau dandan
dan tampil cantik. Masa Irya pake kaos oblong sama celana pendek terus. Ntar
bisa-bisa Mamah gamau ketemu Irya. Aku udah cantik belum Bun? Kurang rapi ya?
Harus pake merah-merah kaya di pipi Bunda gak sih?”
“Ya ampun sayangku Irya. Kamu pake apapun tetep cantik kok.
Apalagi sekarang kaya barbie banget.
Persis. Lebih mendingan sih daripada kemaren kemana-mana pake sendal swallow”,
ejek Bunda sambil tertawa dan memelukku.
“Abis aku deg-degan banget Bunda. Ini kan pertemuan pertama
aku”, balasku manja dengan memeluk Bunda seerat mungkin. Aku selalu suka saat
Bunda mengelus rambutku sambil dipeluk seperti ini.
“Iya sayang, Bunda tau. Tenang aja ya sayang. Di setiap
cerita seorang putri cantik kaya kamu pasti keinginannya dikabulkan oleh Tuhan”
Semoga semua ini bukan dongeng
lagi. Semoga aku bisa jadi putri di dunia nyata. Selama 13 tahun aku menunggu
saat-saat ini. Bertemu dengan seseorang yang sangat berarti untukku. Impian
terbesar dan terindah bagi setiap anak di panti. Tak henti-hentinya aku berdoa
setiap shalat agar bisa bertemu dengannya. Sosok yang membuatku eksis di dunia
ini. Sosok yang kuidamkan kehadirannya di setiap detikku selama ini. Sosok yang
sering membuatku tertegun saat melihat anak lain yang lebih beruntung dariku.
Namun aku tetap bersyukur. Selama 13 tahun ini Bunda Winda selalu ada untukku.
Kala aku sedih maupun senang. Meski kenakalanku membuatnya puyeng setiap hari. Tingkah
lakuku yang manja dan segala senda gurau ku selalu ditanggapinya tanpa keluh
kesah maupun amarah berlebihan. Bunda Winda memang seorang wanita cantik yang
tegas, tapi aku selalu mencintainya.
Kuingat saat aku lari tunggang langgang dengan
kaki tak beralaskan apapun karena dikejar 6 ekor anjing tetangga yang kulempari
kerikil. Bunda Winda menolongku sambil ikut berlari dan mencari tempat yang
aman di atas pohon. Ia memarahiku waktu itu, namun berakhir dengan candaan dan
kami tertawa terus sepanjang perjalanan pulang ke panti. Tiba-tiba kurasakan
mataku mulai panas mengingat semua kenanganku bersama Bunda. Air mataku tak
terbendung lagi dan perlahan jatuh di pipi yang sudah susah payah ku poleskan
bedak sejak berjam-jam yang lalu. Dengan sigap kuhapus agar tak merusak perjuanganku
selama setengah hari ini.
“Yaudah, Bunda ke ruang tamu dulu ya. Siapa tau yang kamu
tunggu-tunggu udah dateng,” katanya seraya beranjak dari kasur setelah
merapikan poniku yang kusut.
“Eh, Bun!” cegatku dengan nada setengah berteriak.
“Hmm?” balasnya sambil membalikkan badan dengan tangan sudah
memegang gagang pintu tanda siap untuk meninggalkan kamar.
“I love you, Bun.
Hehe,” lirihku sambil terkekeh-kekeh.
Bunda menyunggingkan senyumnya yang
manis dan terlihat bibirnya mengisyaratkan kata I love you too tanpa suara dan meninggalkan kamar. Ku menghela
nafas. Kembali berkaca dan merapikan lagi semua dandanan spesialku yang sempat
rusak tadi. Sempurna. Aku siap, batinku.
“Szirya! Ayo ke ruang
tamu sayang. Udah dateng nih!” teriakan Bunda mengalihkan perhatianku. Ini dia.
Saat yang kutunggu-kutunggu. Momen yang bisa membuatku meninggalkan kaos oblong
bergambarkan bendera Inggris dan sendal swallow warna coklat usang kesayanganku
selama setengah hari ini. Suatu hal yang membuat bulu kudukku merinding dan
memaksa nadiku berdenyut lebih cepat. Jantungku terpompa lebih aktif dibanding
ketika aku kabur saat Bunda memaksaku makan brokoli di Minggu pagi. Aku
beranjak dari depan kaca dan berjalan menuju ruang tamu yang jauhnya sekitar
100m dari kamarku. Ku tutup pintu kamar dan kulangkahkan kakiku dengan mantap
menyusuri koridor bercat biru muda dengan berbagai lukisan anak-anak panti di
setiap 3m. Aku terhenti. Kulihat sebentar kearah luar melalui jendela kayu yang
terbuka. Angin sepoi-sepoi menghembuskan helai demi helai rambutku. Terlihat
sunggingan senyum teman-teman yang sangat kusayangi selama ini. Mereka sedang
bermain ular tangga di luar sana. Beberapa ada yang bermain petak umpet dan
mengobrol di ayunan. Aku tersenyum. Sungguh, aku sangat bahagia berada disini.
Bertemu dengan semua teman yang sudah menjadi saudaraku sendiri. Kehadiran
mereka bagaikan oksigen di keseharianku. Tapi, kulanjutkan langkahku. Mengenai
semua saudaraku disini dan Bunda, pasti aku masih bisa bertemu mereka setiap
hari. Aku tak ingin kehilangan lagi. Aku tak ingin selalu bermimpi dengan mimpi
yang sama di setiap malamnya.
Aku sampai di ruang tamu. Semerbak
wangi buah segar bercampur bunga lavender yang asing memenuhi ruangan.
Kuberanikan menegakkan pandanganku. Kulihat sesosok wanita yang tidak asing
bagiku. Biasanya ku melihat sunggingan senyumnya lewat gambar berukuran 4x6
yang kubingkai dengan cantik. Dan aslinya memang lebih cantik. Ia menggunakan
kemeja berbahan shiffon berwarna
coklat muda yang dimasukkan ke dalam celana lurus bernada sama. Mengenakan tas
kulit berwarna merah yang diselendang dan sepatu berhak tinggi senada dengan
tasnya. Rambutnya yang coklat panjang bergelombang jatuh menggantung dengan
rapi di kedua pundaknya kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Kutatap mata
birunya nya yang berbinar menatap balik ke arahku dan perlahan mulai meneteskan
air mata. Aku tertegun dan terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba
air mataku ikut menetes perlahan.
“Szirya? Sini, peluk Mamah sayang,” lirihnya sambil
menghampiri dan memelukku sambil berlutut.
Aku masih sedikit kaget . Kulihat
Bunda tersenyum kearahku dan mengangguk. Kubalas pelukan Mamah yang sangat erat.
Kututup mataku. Kurasakan hangatnya yang sangat membuatku nyaman. Saat-saat
yang memecah tangis, haru, sedih dan bahagia. Semuanya bercampur menjadi satu.
Perasaan senang dan sedih yang menyesakkan dadaku seketika itu juga. Semua kenangan, memori, harapan dan asa
seakan membuncah di otakku menjadi rasa bahagia yang tiada tara. Seluruh
penantian dan waktu yang hampa tanpa sosoknya habis sudah. Akhirnya. Semua
kerinduanku terlepas juga. Setelah 13 tahun. Semua bunga tidur terindah itu
menjadi kenyataan. Aku bukan sekedar putri kerajaan yang menunggu keajaiban
datang. Semuanya, dari pertemuan pertama ini.